Senin, 28 Maret 2016

Komentar Buku Menlis Karya Solichin M.Awi


Buku karya Solichin M.Awi yang berjudul Menulis, Mengapa Menulis, dan Menulislah sangat bagus untuk dibaca mahasiswa yang ingin belajar menulis karya ilmiah. Selain bukunya tidak terlalu tebal yang terdiri dari 118 halaman, sampulnya sederhana namun  isinya juga lengkap dari pembelajaran pondasi awal bagaimana kiat-kiat seseorang yang ingin menulis, di dalam buku itu juga mengajarkan bagaimana cara mendiskripsikan apa yang ada dipikiran seseorang yang ingin menulis agar menjadi sebuah tulisan yang bagus serta dengan gaya tutur bahasa yang mudah dipahami.
Di dalam buku tersebut juga diajarkan bagaimana cara penulisan kata, penulisan tanda baca, penempatan huruf  kapital yang benar, penulisan huruf kursif, penulisan kata transisi, dan gaya penulisan. Di bab awal buku tersebut juga terdapat motivasi untuk seseorang yang malas untuk menulis.
Hanya saja dalam buku tersebut tidak secara spesifik mengenai macam-macam karya tulis ilmiah, pengertian macam-macam karya ilmiah, fungsi dan tujuan suatu karya ilmiah, serta bagaimana cara menulis karya ilmiah misalnya menulis sebuah skripsi, tesis, jurnal, dll.
Menurut saya buku tersebut cocok dibaca bagi seorang pemula yang ingin menulis sebuah karya tulis ilmiah. Karena dalam buku tersebut banyak dituliskan pondasi awal untuk menulis, kiat-kiat untuk menulis, serta dasar;dasar sebuah penulisan karya ilmiah.

Resume Buku Karya Solichin M.Awi


BAB I
MENULIS, MENGAPA HARUS RAGU?

Setiap individu lahir ke bumi dibekali dengan kemampuan menulis, a gifed writer. Setiap orang sejatinya adalah penulis. Sosok yang menulis apa pun. Jika di kemudian hari ia memiliki kemampuan lebih dalam menulis dibandingkan dengan yang lain, bahkan menyematkan kegiatan menulis sebagai profesi, tentu kelebihan itu tidak serta merta bisa dirasionalisasikan sebagai bakat dan takdirnya.Mengapa?
            Pada prinsipnya, menulis tidak sekedar aktivitas fisik, tetapi juga pada ekspresi diri-dalam kendali hati dan otak-yang menuntut latihan berkesinambungan dan terpola secara sistematis.
Kali pertama, seseorang harus meyakinkan diri sendiri bahwa ia bisa menulis. Jangan pernah beranggapan keterampilan menulis itu merupakan bakat alami seseorang. Bakat tidak akan pernah membuahkan hasil yang dikehendaki jika tidak diasah latihan dan sentuhan lingkungan.

BAB II
MEMBACA UNTUK MENULIS, MENULIS UNTUK DIBACA
Penulis yang baik pasti pembaca yng baik pula, tetapi pembaca yang baik belum tentu sebagai penulis yang baik. Mengapa demikian?
            Merujuk bab sebelumnya, tidak lain karena menulis menuntut pengorbanan berupa latihan secara berkesinambungan dan terpola, sedangkan menjadi pembaca yang baik meminta pengorbanan yang tidak sebesar keinginan mewujudkan diri sebagai penulis yang baik.
            Kiranya banyak orang, khususnya yang bergerak di dunia akademik serta di bidang pemikiran dan kebijakan, menginginkan antara membaca dan menulis mampu menjadi keterampilan yang sinergis. Sebutlah reading to write and writing to be read. Membaca (sebagai modal dan senjata untuk menulis dan menulis untuk dibaca (oleh orang lain).
            Jika tujuan tersebut berhasil diwujudkan, seseorang mendapatkan tidak hanya nama dan kepuasan batin, melainkan pula keuntungan finansial dan apresiasi lain dalam pekerjaan maupun kariernya.
Dengan membaca rangsangan dari lingkungan-melalui pengalaman dan pengamatan langsung-pada prinsipnya Anda telah berhasil mengenggam unsur 5W (what, who, when, where, why) dan 1H (how) yang merupakan nadi-nadi pokok tulisan. Tidak mutlak sebagai berita meskipun unsur 5W 1H merupakan nyawa yang tidak terpisahkan darinya. 
            Model telah Anda genggm. Segeralah menuliskannya. Jika merasa belum cukup modal atau belum puas, cobalah mencari landasan penguat sekaligus pengayaan lewat membaca buku maupun acuan lainnya yang relevan dengan argumentasi maupun deskripsi Anda.

BAB III
SETELAH FONDASI, SELANJUTNYA…
A.    MAKNA PENTING OUTLINE
Sangat penting menyusun garis besar rencana konstruksi tulisan seseorang. Agar tidak kehilangan arah dan bingung akibat tema yang diangkat kadang dinilai terlalu luas, tumpang tindih, serta tidak berurutan-kehilangan fokus jika semuanya dirangkum-, maka ia perlu membikin outline.
            Seperti wujud bangunan rumah, tema merupakan konstruksi utuh sebuah tulisan yang diinginkan, sedangkan outline fondasinya. Membangun rumah pasti dimulai dengan fondasi. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi seandainya membangun rumah tanpa fondasi, tetapi tiba-tiba memasang batu, kayu sebagai tembok.

B.     KEKUATAN DESKRIPSI
Jika outline dimiliki sebelumnya, maka faktor penting lainnya yang harus dikuasai penulis saat menulis adalah kekuatan deskripsi.
Jurus-jurus tersebut dirangkum sebagai berikut:
·        Kapan pun memungkinkan, tunjukkan aktivitas orang-orang dalam berita. Tunjukkan dan ceritakan.
·        Gunakan kalimat sederhana tetapi lincah dan variatif, serta sebisa mungkin berkonstruksi subyek-predikat-obyek. Jika terpaksa kalimat harus panjang, upayakan kalimat sesudahnya pendek.
·        Tekankan pemakaian kata kerja aktif. Kata kerja pasif dipakai seandainya benar-benar tidak bisa dihindari atau bertujuan menekankan subyek berita agar lebih menarik perhatian pembaca.
·        Terjemahkan kata dan istilah asing.
·        Gunakan detail spesifik daripada kata sifat.
·        Manfaatkan kekuatan diksi untuk proses risk-taking writing  dan style baru agar tidak terjebak dalam penulisan yang pas-pas an.

BAB IV
CERMATI BAHASA

Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa mencerminkan tidak hanya identitas pemakainya, tetapi juga mewakili kemampun, pola pikir, serta etika pemakainya. Dari sebuah tulisan cukup bisa ditebak apa dan bagaimana penulisannya. Cara media massa menyampaikan beritanya juga tidak semata mewakili kemampuan wartawannya, tetapi juga menunjukkan kelasnya.
A.    PENULISAN KATA
1.      Kata berimbuhan (yang mendapatkan awalan, sisipan, akhiran)
·        Awalan me- + konsonan berawalan k, p, t, s menjadi luluh.
·        Awalan me- + konsonan ganda (konsonan-konsonan-vokal) tidak luluh.
·        Di-, ke- apabila diikuti kata kerja digabung dengan kata yang mengikutinya, tetapi dipisah jika diikuti kata benda maupun keterangan tempat.
2.      Kata ulang, ditulis lengkap dengan tanda hubung.
3.      Gabungan kata/majemuk bagian-bagiannya ditulis terpisah.
4.      Gabungan kata yang dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.
5.      Gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri ditulis serangkai dengan unsur lainnya.
6.      Jika bentuk tersebut (poin 5) diikuti kata berhuruf awal kapital, maka di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
7.      Khusus untuk kata “serba” tidak digabung bila dianggap sebagai kata ulang (serba-serbi) dan menghadapi konjungi, preposisi, partikel.
8.      Kecuali untuk “Maha Esa” , “maha” dan “peri” jika diikuti kata berimbuhan ditulis terpisah.
9.      Partikel pun yang berarti ‘juga’ ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya, tetapi aturan ini tidak berlaku pada kelompok padu, seperti adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun.
10. Partikel per yang berarti ‘mulai, demi, tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendampinginya.

B.     PENULISAN HURUF KAPITAL
1.      Huruf pertama pada awal kata sebuah kalimat.
2.      Huruf pertama dalam kalimat petikan langsung.
3.      Huruf pertama ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan.
4.      Huruf pertama nama jabatan atau gelar yang diikuti nama orang atau nama instansi/lembaga/organisasi.
5.      Kata-kata van, den, da, de, bin, ar, ibnu yang digunakan sebagai nama orang tetap ditulis dengan huruf kecil, kecuali sebagai nama pertama.
6.      Huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa kecuali nama tersebut mendapatkan imbuhan.
7.      Huruf pertama nama hari, bulan, tahun, peristiwa bersejarah, dan kegiatan.
8.      Huruf pertama nama geografi, kecuali yang berarti  ‘jenis’
9.      Huruf pertama nama resmi badan dan nama dokumen.
10. Huruf pertama istilah kekerabatan (bapak, ibu, saudara, kakak, adik, termasuk, Anda) sebagai kata ganti sapaan.

C.     PENULISAN HURUF KURSIF
1.      Nama buku, media massa, dan kantor berita.
2.      Judul karangan, nama rubrik, nama acara/program televisi, judul lagu dan film.
3.      Nama ilmiah, istilah asing, dan bahasa Indonesia belum baku.
4.      Penekanan pada kata atau kalimat yang dipentingkan.
5.      Tuturan langsung
6.      Singkatan dalam bahasa asing, kecuali nama lembaga.

D.    TANDA BACA
1.      Penulisan Tanda Titik (.)
2.      Penulisan Tanda Koma (,)
3.      Penulisan Tanda Petik Ganda (“…..”)
4.      Penulisan Tanda Petik Tunggal (‘…..’)
5.      Penulisan Tanda Hubung (-)
6.      Penulisan Tanda Pisah (-)

E.     KATA TRANSISI
Kata-kata transisi berfungsi sebagai “jalan tengah” dari polarisasi repetisi dan kata ganti. Bila repitisi menghendaki pengulangan kata-kata kunci dan kata ganti tidak menghendaki pengulangan sebuah kata, maka kata transisi menempuh jalan tengah dengan menghadirkan kata atau frasa transisi sebagai penghubung atau katalisator antara satu preposisi dan preposisi lainnya.

F.      GAYA SELINGKUNG
Sebuah pilihan kata kadang tidak sesuai dengan aturan dalam pedoman bahasa Indonesia, tetapi para ahli bahasa pun tidak berwenang menyalahkannya karena, sebagaimana disinggung pada awal bab ini, faktor keberterimaannya oleh masyarakat luas.

G.    BEBERAPA KASUS
Beberapa kasus yang sering mucul, diantaranya berkaitan dengan:
1.      Pasangan Kata
2.      Bentuk Bersaing
3.      Bentuk Jamak dan Bentuk Tunggal
4.      Penyebutan/ Penulisan Nama
5.      Penulian Singkatan & Akronim
6.      Penulian Nama Tempat
7.      Kata Mubazir
8.      Kesalahan Penempatan Kata Transisi

BAB V
BERITA DAN ROHNYA
Berita (news) menjadi ranah tidak hanya orang-orang yang sehari-hari beraktivitas di perusahaan pers. Karena keinginan untuk mempublikasikan aktivitasnya dan kepentingan berinteraksi yang komunikatif, berita juga menjadi urusan anggota masyarakat.
Dari berbagai literatur jurnalisme bisa didapatkan beragam definisi tentang berita, tetapi tidak ada batasan verbalnya yang absolute. Begitu pula dengan informasi (information). Kadang informasi bisa menjadi  berita, tetapi tidak semua informasi menjadi berita.

BAB VI
MENYELAMI FEATURE

Lingkungan sekitar serta bentang alam nan luas ibarat buku tanpa batas. Banyak fenomena dan peristiwa bisa dibaca darinya sekaligus sebagai bahan yang tiada habis ditulis. Terserah cara seseorang menyikapinya: apakah fenomena dan peristiwa tertentu menarik tidak hanya untuk menurut persepsinya, tetapi juga bagi orang lain.
Jika pilihan kedua yang diambil, seseorang lebih tepat menuliskannya dalam bentuk feature atau berita kisah dengan tetap mengacu pada prinsip dasar 5W dan 1H dalam berita. Jika berita lempang menempatkannya dalam paragraf-paragraf awal, maka pada penulisan feature penempatannya tidak kaku dan bisa tersebar dalam keseluruhan badan berita.

BAB VII
MENJAWAB TANTANGAN ‘OPINI’

A.    KARAKTER DAN IDEOLOGI MEDIA
Memahami karakter dan ideologi media massa bisa dilakukan dengan analisis bentuk fisik, muatan atau isi, serta pemakaian gaya bahasanya. Yang tidak kalah penting adalah memastikan apakah media yang dituju menyediakan ruang liputan atau rubrikasi untuk liputan maupun tulisan seperti tema artikel opini si penulis.

B.     SYARAT DAN KETENTUAN PEMUATAN
Syarat dan ketentuan tersebut, di antaranya, menyangkut tema, tulisan, penyajian, rambu-rambu berkaitan dengan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) maupun kesusilaan, serta teknik penulisan naskah yang meliputi panjang tulisan (jumlah kata) dan teknik pengetikan (kadang menentukan jenis font dan penspasian), khususnya untuk artikel yang dikirimkan ke media cetak.