BAB I
MENULIS, MENGAPA HARUS
RAGU?
Setiap individu lahir ke bumi dibekali
dengan kemampuan menulis, a gifed writer.
Setiap orang sejatinya adalah penulis. Sosok yang menulis apa pun. Jika di
kemudian hari ia memiliki kemampuan lebih dalam menulis dibandingkan dengan
yang lain, bahkan menyematkan kegiatan menulis sebagai profesi, tentu kelebihan
itu tidak serta merta bisa dirasionalisasikan sebagai bakat dan
takdirnya.Mengapa?
Pada
prinsipnya, menulis tidak sekedar aktivitas fisik, tetapi juga pada ekspresi
diri-dalam kendali hati dan otak-yang menuntut latihan berkesinambungan dan
terpola secara sistematis.
Kali pertama, seseorang harus meyakinkan
diri sendiri bahwa ia bisa menulis. Jangan pernah beranggapan keterampilan
menulis itu merupakan bakat alami seseorang. Bakat tidak akan pernah membuahkan
hasil yang dikehendaki jika tidak diasah latihan dan sentuhan lingkungan.
BAB II
MEMBACA UNTUK MENULIS,
MENULIS UNTUK DIBACA
Penulis yang baik pasti
pembaca yng baik pula, tetapi pembaca yang baik belum tentu sebagai penulis
yang baik. Mengapa demikian?
Merujuk
bab sebelumnya, tidak lain karena menulis menuntut pengorbanan berupa latihan
secara berkesinambungan dan terpola, sedangkan menjadi pembaca yang baik
meminta pengorbanan yang tidak sebesar keinginan mewujudkan diri sebagai
penulis yang baik.
Kiranya
banyak orang, khususnya yang bergerak di dunia akademik serta di bidang
pemikiran dan kebijakan, menginginkan antara membaca dan menulis mampu menjadi
keterampilan yang sinergis. Sebutlah reading
to write and writing to be read.
Membaca (sebagai modal dan senjata untuk menulis dan menulis untuk dibaca (oleh
orang lain).
Jika
tujuan tersebut berhasil diwujudkan, seseorang mendapatkan tidak hanya nama dan
kepuasan batin, melainkan pula keuntungan finansial dan apresiasi lain dalam
pekerjaan maupun kariernya.
Dengan membaca rangsangan dari
lingkungan-melalui pengalaman dan pengamatan langsung-pada prinsipnya Anda
telah berhasil mengenggam unsur 5W (what,
who, when, where, why) dan 1H (how) yang
merupakan nadi-nadi pokok tulisan. Tidak mutlak sebagai berita meskipun unsur
5W 1H merupakan nyawa yang tidak terpisahkan darinya.
Model
telah Anda genggm. Segeralah menuliskannya. Jika merasa belum cukup modal atau
belum puas, cobalah mencari landasan penguat sekaligus pengayaan lewat membaca
buku maupun acuan lainnya yang relevan dengan argumentasi maupun deskripsi
Anda.
BAB III
SETELAH FONDASI,
SELANJUTNYA…
A.
MAKNA PENTING OUTLINE
Sangat
penting menyusun garis besar rencana konstruksi tulisan seseorang. Agar tidak
kehilangan arah dan bingung akibat tema yang diangkat kadang dinilai terlalu
luas, tumpang tindih, serta tidak berurutan-kehilangan fokus jika semuanya
dirangkum-, maka ia perlu membikin outline.
Seperti wujud bangunan rumah, tema
merupakan konstruksi utuh sebuah tulisan yang diinginkan, sedangkan outline fondasinya. Membangun rumah
pasti dimulai dengan fondasi. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi seandainya
membangun rumah tanpa fondasi, tetapi tiba-tiba memasang batu, kayu sebagai
tembok.
B.
KEKUATAN DESKRIPSI
Jika
outline dimiliki sebelumnya, maka
faktor penting lainnya yang harus dikuasai penulis saat menulis adalah kekuatan
deskripsi.
Jurus-jurus
tersebut dirangkum sebagai berikut:
·
Kapan pun memungkinkan, tunjukkan
aktivitas orang-orang dalam berita. Tunjukkan dan ceritakan.
·
Gunakan kalimat sederhana tetapi lincah
dan variatif, serta sebisa mungkin berkonstruksi subyek-predikat-obyek. Jika
terpaksa kalimat harus panjang, upayakan kalimat sesudahnya pendek.
·
Tekankan pemakaian kata kerja aktif.
Kata kerja pasif dipakai seandainya benar-benar tidak bisa dihindari atau
bertujuan menekankan subyek berita agar lebih menarik perhatian pembaca.
·
Terjemahkan kata dan istilah asing.
·
Gunakan detail spesifik daripada kata
sifat.
·
Manfaatkan kekuatan diksi untuk proses risk-taking writing dan style
baru agar tidak terjebak dalam penulisan yang pas-pas an.
BAB IV
CERMATI BAHASA
Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa
mencerminkan tidak hanya identitas pemakainya, tetapi juga mewakili kemampun,
pola pikir, serta etika pemakainya. Dari sebuah tulisan cukup bisa ditebak apa
dan bagaimana penulisannya. Cara media massa menyampaikan beritanya juga tidak
semata mewakili kemampuan wartawannya, tetapi juga menunjukkan kelasnya.
A.
PENULISAN KATA
1. Kata
berimbuhan (yang mendapatkan awalan, sisipan, akhiran)
·
Awalan
me- + konsonan berawalan k, p, t, s menjadi luluh.
·
Awalan
me- + konsonan ganda (konsonan-konsonan-vokal) tidak luluh.
·
Di-,
ke- apabila diikuti kata kerja digabung dengan kata yang mengikutinya, tetapi
dipisah jika diikuti kata benda maupun keterangan tempat.
2. Kata
ulang, ditulis lengkap dengan tanda hubung.
3. Gabungan
kata/majemuk bagian-bagiannya ditulis terpisah.
4. Gabungan
kata yang dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.
5. Gabungan
kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri ditulis serangkai
dengan unsur lainnya.
6. Jika
bentuk tersebut (poin 5) diikuti kata berhuruf awal kapital, maka di antara
kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
7. Khusus
untuk kata “serba” tidak digabung bila dianggap sebagai kata ulang
(serba-serbi) dan menghadapi konjungi, preposisi, partikel.
8. Kecuali
untuk “Maha Esa” , “maha” dan “peri” jika diikuti kata berimbuhan ditulis
terpisah.
9. Partikel
pun yang berarti ‘juga’ ditulis
terpisah dari kata yang mendahuluinya, tetapi aturan ini tidak berlaku pada
kelompok padu, seperti adapun, andaipun,
ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun,
sekalipun, sungguhpun, walaupun.
10. Partikel
per yang berarti ‘mulai, demi, tiap’
ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendampinginya.
B.
PENULISAN HURUF KAPITAL
1. Huruf
pertama pada awal kata sebuah kalimat.
2. Huruf
pertama dalam kalimat petikan langsung.
3. Huruf
pertama ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan hal keagamaan, kitab suci,
nama Tuhan.
4. Huruf
pertama nama jabatan atau gelar yang diikuti nama orang atau nama
instansi/lembaga/organisasi.
5. Kata-kata
van, den, da, de, bin, ar, ibnu yang
digunakan sebagai nama orang tetap ditulis dengan huruf kecil, kecuali sebagai
nama pertama.
6. Huruf
pertama nama bangsa, suku, dan bahasa kecuali nama tersebut mendapatkan
imbuhan.
7. Huruf
pertama nama hari, bulan, tahun, peristiwa bersejarah, dan kegiatan.
8. Huruf
pertama nama geografi, kecuali yang berarti
‘jenis’
9. Huruf
pertama nama resmi badan dan nama dokumen.
10. Huruf
pertama istilah kekerabatan (bapak, ibu, saudara, kakak, adik, termasuk, Anda)
sebagai kata ganti sapaan.
C.
PENULISAN HURUF KURSIF
1. Nama
buku, media massa, dan kantor berita.
2. Judul
karangan, nama rubrik, nama acara/program televisi, judul lagu dan film.
3. Nama
ilmiah, istilah asing, dan bahasa Indonesia belum baku.
4. Penekanan
pada kata atau kalimat yang dipentingkan.
5. Tuturan
langsung
6. Singkatan
dalam bahasa asing, kecuali nama lembaga.
D.
TANDA BACA
1. Penulisan
Tanda Titik (.)
2. Penulisan
Tanda Koma (,)
3. Penulisan
Tanda Petik Ganda (“…..”)
4. Penulisan
Tanda Petik Tunggal (‘…..’)
5. Penulisan
Tanda Hubung (-)
6. Penulisan
Tanda Pisah (-)
E.
KATA TRANSISI
Kata-kata
transisi berfungsi sebagai “jalan tengah” dari polarisasi repetisi dan kata
ganti. Bila repitisi menghendaki pengulangan kata-kata kunci dan kata ganti
tidak menghendaki pengulangan sebuah kata, maka kata transisi menempuh jalan
tengah dengan menghadirkan kata atau frasa transisi sebagai penghubung atau
katalisator antara satu preposisi dan preposisi lainnya.
F.
GAYA SELINGKUNG
Sebuah
pilihan kata kadang tidak sesuai dengan aturan dalam pedoman bahasa Indonesia,
tetapi para ahli bahasa pun tidak berwenang menyalahkannya karena, sebagaimana
disinggung pada awal bab ini, faktor keberterimaannya oleh masyarakat luas.
G.
BEBERAPA KASUS
Beberapa
kasus yang sering mucul, diantaranya berkaitan dengan:
1. Pasangan
Kata
2. Bentuk
Bersaing
3. Bentuk
Jamak dan Bentuk Tunggal
4. Penyebutan/
Penulisan Nama
5. Penulian
Singkatan & Akronim
6. Penulian
Nama Tempat
7. Kata
Mubazir
8. Kesalahan
Penempatan Kata Transisi
BAB V
BERITA DAN ROHNYA
Berita (news) menjadi ranah tidak hanya
orang-orang yang sehari-hari beraktivitas di perusahaan pers. Karena keinginan
untuk mempublikasikan aktivitasnya dan kepentingan berinteraksi yang
komunikatif, berita juga menjadi urusan anggota masyarakat.
Dari berbagai literatur
jurnalisme bisa didapatkan beragam definisi tentang berita, tetapi tidak ada
batasan verbalnya yang absolute. Begitu pula dengan informasi (information). Kadang informasi bisa
menjadi berita, tetapi tidak semua
informasi menjadi berita.
BAB VI
MENYELAMI FEATURE
Lingkungan sekitar
serta bentang alam nan luas ibarat buku tanpa batas. Banyak fenomena dan
peristiwa bisa dibaca darinya sekaligus sebagai bahan yang tiada habis ditulis.
Terserah cara seseorang menyikapinya: apakah fenomena dan peristiwa tertentu
menarik tidak hanya untuk menurut persepsinya, tetapi juga bagi orang lain.
Jika pilihan kedua yang
diambil, seseorang lebih tepat menuliskannya dalam bentuk feature atau berita kisah dengan tetap mengacu pada prinsip dasar
5W dan 1H dalam berita. Jika berita lempang menempatkannya dalam
paragraf-paragraf awal, maka pada penulisan feature
penempatannya tidak kaku dan bisa tersebar dalam keseluruhan badan berita.
BAB VII
MENJAWAB TANTANGAN
‘OPINI’
A.
KARAKTER DAN IDEOLOGI MEDIA
Memahami
karakter dan ideologi media massa bisa dilakukan dengan analisis bentuk fisik,
muatan atau isi, serta pemakaian gaya bahasanya. Yang tidak kalah penting
adalah memastikan apakah media yang dituju menyediakan ruang liputan atau
rubrikasi untuk liputan maupun tulisan seperti tema artikel opini si penulis.
B.
SYARAT DAN KETENTUAN PEMUATAN
Syarat
dan ketentuan tersebut, di antaranya, menyangkut tema, tulisan, penyajian,
rambu-rambu berkaitan dengan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) maupun
kesusilaan, serta teknik penulisan naskah yang meliputi panjang tulisan (jumlah
kata) dan teknik pengetikan (kadang menentukan jenis font dan penspasian), khususnya untuk artikel yang dikirimkan ke
media cetak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar