Selasa, 08 Maret 2016

Cerpen (Sayatan)


SAYATAN !!!

Tria mengerutkan keningnya memandang hutan karet yang membentang di hadapannya, dia benar-benar tidak menyangka bahwa tempat KKN-nya berada di daerah yang sangat terpencil. Hampir 90 km dari kota perjalanan harus ditempuh dengan jalur darat, melewati hutan yang gelap dan jalanan yang rusak, membuat tubuh mereka terguncang-guncang di sepanjang perjalanan didua mobil yang mereka naiki. Mereka satu tim yang terdiri dari dua belas orang mereka dari akademi keperawatan yang mendapat tugas berkunjung ke desa tersebut. Sekarang sudah hampir dua bulan Tria disini masa KKN nya sudah hampir habis. Perasaan lega dan puas bercampur aduk dibenaknya, setidaknya dia sudah melakukan sesuatu, penduduk sekarang sudah mulai mengerti pentingnya MCK di tempat yang seharusnya. Mereka juga membangun sebuah WC umum di tengah desa.Hanya satu yang masih menjanggal, penduduk sekitar sini masih kental dengan aliran mistis yang diwariskan turun temurun dari para leluhur mereka. Tria masih sering melihat sesajen di bawah pohon-pohon besar ataupun pondok-pondok yang berada di tengah hutan karet yang membuat bulu kuduknya merinding. Dan ada satu lagi yang mengganggunya, meskipun penduduk desa kebanyakan baik dan ramah, mereka menganggap Tria dan teman-temannya seperti keluarga sendiri, tetapi sayangnya, ada gadis itu, gadis yang seumuran Tria yang dipasung di belakang rumah kepala desa. Tria sangat sedih melihatnya kenapa pemasungan masih berlaku di sini ? kenapa memperlakukan gadis itu layaknya hewan yang tak berguna ini sungguh tak manusiawi, ketika pertama kali mengetahui hal ini, Tria sempat menemui kepala desa dan memprotes. Kepala desa hanya menatap Tria dengan tegas, “gadis itu namanya Bulan. Dia dirasuki iblis, dia ditemukan di samping mayat ibunya yang bersimbah darah, sambil memegang pisau dan penduduk mengira dialah pembunuhnya. Penduduk ketakutan padanya dan karena tidak ada lagi keluarganya penduduk menyerahkan kepada saya untuk memasungnya” . “tetapi dia tidak terlihat berbahaya, lagi pula kalian belum bisa membuktikan bahwa dia yang membunuh ibunya? Bisa saja orang lain yang melakukannya lalu melemparkan dosanya kepada gadis itu, kalau pun dia membunuhnya, kalian tentu saja harus menyerahkan gadis itu kepada yang berwajib agar dia mendapatkan perawatan yang baik bukannya malahan dipasung seperti ini ! ini sungguh tidak berprikemanusiaan ! saya tidak akan membiarkannya !” . Dan Tria pun mulai bertindak, dia mengurus segalanya, menghubungi bagian-bagian terkait di kota untuk membantunya. Tantenya yang berkerja di Komisi Perlindungan Wanita berjanji akan mengurus Bulan setibanya di kota dan kemudian mengevaluasi keadaan Bulan kalau memang ada gangguan kejiwaan, Bulan akan mendapatkan perawatan yang terbaik.
Ketika masa KKN nya sudah hampir berakhir, Tria menyampaikan kemauannya itu kepada kepala desa, semula kepala desa itu tidak setuju, “Jangan nak Tria, tidak baik membawa Bulan ke kota, sudah saya bilang dia dirasuki iblis, dia bisa membunuh siapa saja, bukan hanya ibunya. Biarlah dia dipasung di desa ini, kami yang akan menjaga dan mengurusnya supaya tidak membahayakan orang lain” . “Saya bisa menuntut anda karena perlakuan tidak baik kepada gadis itu” . Tria menatap kepala desa penuh tekad. Dalam benaknya membayangkan sosok Bulan, gadis itu dipasung di belakang rumah kepala desa dalam ruangan seperti kandang yang terbuat dari bambu. Bau pesing menyengat di sana, dan pakaian gadis itu sangat lusuh seolah dia tidak pernah mandi. Tidak ada yang berani mendekati gadis itu hanya saja pengurusnya yang melemparkan makanan dan air, itu pun dari jauh. Bulan benar-benar diperlakukan seperti hewan. Hati Tria miris betapa menyedihkannya keadaan Bulan, sebenarnya Bulan adalah gadis yang cantik diusianya yang sekarang , ia harusnya bisa seperti gadis-gadis lainnya, bersekolah, bermain, jalan-jalan dengan teman atau yang lainnya, bukannya malah terpasung hanya karena kepercayaan penduduk desa itu pada hal yang berbau mistis.
Kepala desa itu menatap mata Tria yang menyala-nyala, ia pun akhirnya menyerah, meskipun hatinya merasa enggan dan khawatir. “Baiklah nak Tria, kamu bisa membawa Bulan keluar dari desa ini, tapi kami semua tidak akan bertanggung jawab akan apapun yang mungkin dilakukan Bulan di Kota nanti”. “Sepakat” Tria menyalami kepala desa itu dengan kepuasan luar biasa. Dia akan membawa Bulan pulang ke kota besok dan menyelamatkan gadis itu. Ketika dia keluar dari ruangan kepala desa, para penduduk rupanya sedang berkumpul di sana, mereka memandang Tria dengan ketakutan dan rasa ngeri. “Itu orang yang akan melepaskan gadis iblis itu, dan membawanya ke kota” seru seorang anak kecil sambil menunjuk-nunjuk ke arah Tria. Para penduduk tampak sinis, mereka semua berbisik-bisik penuh prasangka, tetapi Tria tidak peduli, dia melangkah dengan gagah berani menuju sebuah rumah kosong milik warga tempat dia dan teman-temannya tinggal. Riski pemimpin timnya menyambutnya di sana dalam senyuman. Mereka semua sedang mengemas barang-barangnya untuk kepulangan mereka besok pagi. “Apakah kau berhasil ?” Tanya Riski. Tria mengganggukan kepalanya “tentu saja”. Riski mengelus kepala Tria dengan lembut dan penuh kasih sayang, “Hebat, aku yakin bisa mengandalkanmu. Kita harus membebaskan gadis itu dari perlakuan yang tidak manusiawi” . Dada Tria mengembang akan perasaan bangga. Ini jugalah salah satu alasannya Tria mati-matian memperjuangkan kebebasan Bulan, dia merasa sangat senang ketika Riski memujinya.
Riski.. pipi Tria bersemu merah, ia merasa sedikit malu dengan pujian yang dilontarkan Riski , selama beberapa bulan di desa ini, mereka begitu dekat, dan Tria yakin ada percik-percik asmara yang berkembang di sana. “Ayo bereskan barang-barangmu, besok pagi-pagi sekali kita mandikan gadis itu supaya pantas untuk di bawa ke kota” .Dewi yang tiba-tiba muncul, salah satu anggota tim KKN mereka menepuk pundak Tria dan tersenyum.
Tria menurut, ia mengemasi barang-barangnya bersama anak-anak lain, mereka semua tertawa dan bercanda, senang bahwa mereka akan pulang kerumah setelah masa KKN yang penuh suka cita ini, banyak pengalaman yang mereka peroleh selama berada di desa ini.

**
            Bulan ternyata cantik sekali, setelah Tria dan teman-teman perempuannya membantu Bulan mandi, dan kemudian memberinya pakaian yang layak dipakai, dan pakaian itu didapatnya dari teman mereka yang bernama Griya, Griya adalah teman Tria yang bertubuh mungil. Gadis itu tampak normal dan cantik seperti gadis kebanyakan. Pakaian yang digunakannya sangat pas ditubuhnya, dan Tria serta teman-temannya harus mengolesi salep kepergelangan tangan dan kaki Bulan yang lecet-lecet akibat dipasang terlalu lama. Mereka semua mendesah dan mengutuk perlakuan kejam penduduk desa kepada Bulan.
Setelah semua siap. Tria dan rombongannya membawa Bulan ke mobil. Semua penduduk desa tampaknya bersembunyi ketika tahu bahwa Bulan dilepaskan dari pasungannya, warga desa tampak tegang, bahkan tidak satupun orang atau anak-anak yang biasanya melewatkan hari di teras ataupun di jalanan, desa itu layaknya desa kosong tak berpenghuni, walaupun begitu Tria masih bisa  melihat wajah ketakutan penuh ingin tahu yang mengintip dari balik kaca atau jendela rumah ketika Tria lewat bersama Bulan. Dalam hatinya Tria mencibir “begitu dalam kah kepercayaan mereka akan hal mistis, sehingga mereka sangat takut dengan gadis yang tidak berdaya ini, sampai-sampai memasungnya tanpa kasihan”. Hanya kepala desa yang berdiri di sana dan melepas mereka, dia melirik ke arah Bulan yang diam dengan pandangan kosong, lalu menatap takut-takut ke arah Riski, “kalian eh…kalian tidak mengikatnya” . Tria langsung merasa tersinggung, hendak menyemprot kapala desa itu tapi untungnya Riski menahan Tria, dia bergumam duluan, “kami rasa dia tidak berbahaya pak” jawab Riski yakin. Kepala desa itu mundur selangkah seolah takut terciprat tulah ketika Bulan lewat untuk memasuki mobil, dia duduk di rombongan depan duduk di sebelah Tria, sekali lagi Tria merasa sangat kesal dengan tingkah laku kepala desa tersebut.

**

            Dua mobil rombongan tim KKN itu pun melaju dengan cepat dan meninggalkan desa terpencil itu. Semuanya mendesah lega antara penat dan bahagia, karena telah selesai mengerjakan tugas mereka. Riski menyetir dan tersenyum melihat Bulan yang setengah tertidur bersandar di bahunya. “Kasian, sekali dia ya” . Gumam Riski diikuti anggukan dari teman-temannya yang lain yang berada dalam mobil. Tria menghela nafas panjang melirik ke arah Bulan yang tertidur pulas dengan wajah lemah. Hati Tria ngeri membayangkan betapa kejamnya penderitaan yang dialami Bulan selama dalam pasungan. “Yang penting kita sudah menyelamatkannya” kata Tria dengan tulus.

**

            Karena sudah menjelang tengah malam dan perjalanan masih panjang, mereka memutuskan untuk menginap di desa kecil yang mereka lalui. Beruntung, desa itu merupakan tempat wisata pantai, sehingga banyak penginapan tersedia, lagipula ini bukan liburan sehingga banyak sekali kamar kosong yang tersedia karena tidak ada pengunjung yang datang. Mereka memutuskan menyewa satu paviliun besar yang terdiri dari empat kamar.
Di malam harinya bukannya tidur, mereka malah berkumpul dan bercanda di ruang tengah paviliun, sambil bermain gitar dan menonton tv.  Dan romantisnya lagi Riski tiba-tiba saja membacakan sebuah musikalisasi puisi yang diiringi dengan gitar.





Bukan karena mata yang melihat
Telinga yang mendengar
Mulut yang berkata-kata
Atau hati yang merasa
Tapi mungkin ini tentang kenyamanan
Suatu perasaan yang mungkin tak kudapat
Perasaan yang jarang aku rasa
Suatu rasa yang aku cari
Kemana-mana dengan berlari
Entah dengan lelah aku akan selalu
Menapaki jalan itu hingga
Aku dapat apa yang ku cari
Dan jika semua itu telah kudapat
Sampai kapanpun takkan pernah ku lepas lagi
Akan ku pertahankan hingga nafas ku berhenti .

Semua anak-anak yang berada di Paviliun itupun bertepuk tangan dan bersorak ketika Riski selesai membacakan puisi tersebut dan Tria pun orang yang paling keras menepuk tangannya ketika itu.
Selama itu Bulan selalu berada di sebelah Tria dan Riski. Sampai kemudian Riski melihat Bulan menguap berkali-kali.
“Tria, itu Bulan sepertinya mau tidur” . “Oh iya, biar aku yang mengantarkannya”. Tria beranjak sambil bergumam kepada teman-temannya yang masih asyik nonton tv dan ngobrol. Dia lalu mengantar Bulan ke sebuah kamar yang tersedia. Dengan lembut dibantunya Bulan berbaring di atas kasur, Tria duduk di samping kasur sambil bercerita sendiri tentang pengalamannya di desa tempat Bulan tinggal. Lama kelamaan mata Bulan meredup dan kemudian dia terpejam dan tenggelam dalam tidur yang pulas, Tria sendiri merasa ngantuk dan lelah setelah seharian perjalanan, Tria pun merebahkan kepalanya di pinggir ranjang dan terlelap.
**

            Tria terbangun, entah kenapa sejenak ia merinding oleh suasana hening yang pekat, tidak ada lagi suara galak tawa dan obrolan teman-temannya, tidak ada lagi suara gitar yang dipetik dengan senandung yang ceria. “Mungkin semua sudah tertidur” kata Tria. Dan pada akhirnya Tria mengerutkan keningnya ketika melihat betapa gelapnya kamar ini, juga bagian ruang tengah, semua gelap. “Apakah mati lampu !” pikir Tria, ketika Tria berdiri, dia semakin terkejut karena kasur tempat Bulan tidur ternyata kosong, kemana Bulan ? Tiba-tiba Tria merasa cemas, takut Bulan keluar sendirian lalu tersesat. “Semoga saja Bulan tertidur dengan salah satu teman perempuannya” ucap Tria dalam hati. Tria melangkah keluar kamar, ruang tamu yang tadinya terang sekarang gelap pekat, dia mencoba menajamkan matanya dan menyesuaikan diri dengan ruangan gelap itu, dengan sekejap Tria bisa melihat bayangan teman-temannya yang tertidur di ruang tamu, mungkin mereka terlalu kelelahan sehingga tidak tidur di kamar, melainkan langsung tidur di ruang tamu. Empat teman perempuannya yang bernama Jessica, Dewi, Griya dan Gadis tampak tertidur. Sambil duduk di atas sofa besar di depan tv. Sementara teman-teman lelakinya tertidur di atas lantai yang dilapisi karpet bergelimpangan tak tentu arah, membuat Tria geli, “Dasar laki-laki !” gumamnya dalam hati sambil mencari sosok Riski di sana. Tria menemukan Riski, lelaki itu bergelung di dekat tembok dengan senyum Tria mendekat, dia berniat ingin tidur di dekat Riski, agar nanti pagi ketika mereka bangun dalam keadaan berpelukan, dengan wajah malu karena ketahuan temannya yang lain. Tria berjongkok untuk mencari posisi yang nyaman, tiba-tiba tangan Tria menyentuh karpet dan dia mengerutkan kening. “Basah..” Tria mendekatkan cairan yang membasahi tengannya ketika menyentuh hidungnya, “Aroma amis.. itu darah !” Tria panik menyentuh pundak Riski dan mengguncang-guncangnya untuk membangunkannya, tetapi Riski tidak bangun juga, dengan keras Tria membalikkan tubuh Riski yang meningkuk menghadap tembok, dan dia terpana… Riski terbaring dengan mata membelalak, tubunnya lunglai dan ada luka sayatan yang membasahi seluruh bagian di lehernya.
            Tria menjerit keras-keras dikegelapan, dia berlari kearah teman-temannya yang lain. Semua teman laki-lakinya yang terbaring di lantai serupa dengan Riski, mereka terbaring mati dengan sayatan yang mengalirkan darah. Tria berlari ke sofa dan dia pun tiba-tiba menjerit lagi ketika menemukan keadaan teman-temannya yang tak kalah mengerikannya. Semuanya mati, semuanya terluka dibagian leher, yang masih mengucurkan darah segar . Luka itu merupakan bekas sayatan pisau, darah mengucur dimana-mna membasahi sofa, membasahi karpet. Tria berlari kearah pintu, Tria panik ketika menemukan pintunya terkunci, dia mengedor-ngedornya dan berteriak minta tolong tapi suasana di luar begitu senyap. Kenapa tidak ada yang menolongnya ?? Tria menjerit-jerit sampai suaranya serak, berusaha membangunkan siapa pun yang berada di dekat penginapan ini. “Sssssssttttt” lalu suara itu terdengar, membuat Tria menolehkan kepalanya dengan takut, dalam kegelapan, dia melihat sosok Bulan berdiri di sana. Ujung tangan Bulan di taruhnya di depan bibir Tria sebagai isyarat agar Tria diam, dan di sebelah tangannya terpacung pisau besar yang berkilat-kilat terkena cahaya bulan yang menembus jendela. Pisau itu berlumuran darah…

**

Di kegelapan
Dalam keheningan
Mata itu menyala
Bulan yang bersinar terang
Menabuh genderang perang
Mata itu nyalang
Menguasai …
 sebuah pisau teracung
Menunggu …
Mengintai …
Menatap …
Mendekat …
Menggoreskan sebuah tanda
SAYATAN !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar