Pada
tahap perencanaan awal, saya akan melakukan
pemilihan rencana tema yang sesuai dengan yang akan di teliti. Sebuah tema
adalah rancangan awal yang nantinya akan menentukan batas-batas dalam suatu
penelitian, hal ini dimaksudkan agar dalam pembuatan jurnal saya nantinya tidak
lepas dari tema awal rencana pembuatan jurnal tersebut. Setelah itu saya akan melakukan
peninjauan tentang berbagai jurnal yang telah saya cari di internet yang
berfungsi sebagai contoh, maka saya memutuskan untuk memilih tema pedidikan yang
kajiannya membahas tentang kelayakan sebuah buku teks. Selanjutnya saya akan menentukan
perencanaan judul yang dipilih sesuai dengan tema yang telah diambil tadi.
Perencanaan judul sangatlah penting, guna membuat kajian dengan ruang lingkup
yang lebih terfokus pada satu sisi. Namun judul yang saya maksud di sini hanyalah judul
sementara, sehingga pada tahap revisi nantinya judul tersebut bisa saja diubah,
tergantung pada isi dari penelitian, serta kecocokan dengan tema yang akan
dibahas pada penelitian, yang kemudian dijadikan jurnal. Rencana judul dari
jurnal tentulah memiliki berbagai pertimbangan dalam memilihnya, kriteria judul
yang baik dapat dibuat dengan cara memasukan
subjek dari penelitian, objek penelitian tersebut, serta permasalahan yang
akan diangkat pada jurnal tersebut. Dengan
berpatokan pada ketiga dasar tersebut, maka saya memilih rancangan jurnal
berjudul Kelayakan
Buku Teks Bahasa
Indonesia
Bagi Siswa SMP Kelas VII.
Alasan saya memilih judul tersebut karena saya ingin memberi kontribusi
terhadap dunia pendidikan agar jurnal saya nantinya bisa membantu para guru
atau pun
siswa memilih sebuah buku teks, serta layak atau tidaknya sebuah buku teks bagi
siswa kelas VII sekolah menengah khususnya buku-buku bahasa Indonesia sebab bahasa Indonesia sangat menuntut
para siswa untuk membaca, misalnya
saja seperti teks wacana, tulisan yang
berupa novel, cerpen, karangan dll yang
mengharuskan siswanya membaca sebuah teks. Pada rancangan jurnal saya nantinya
akan berisi lebih dari 10 halaman yang memuat tentang pengertian buku teks,
karakteristik buku teks, pengaruh buku teks bagi pembacanya, buku teks dalam
pendidikan, penilaian kelayakan isi dari sebuah buku teks, penilaian
kelayakan penyajian, penilaian kelayakan bahasa, penilaian kelayakan
kegrafikan. Pada hakikatnya buku teks adalah buku yang berisi uraian tentang mata pelajaran atau bidang tertentu, yang
disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan tujuan tertentu, orientasi pembelajaran,
dan perkembangan siswa, untuk diasimilasikan. Karakteristik buku teks bisa
dilihat dari segi isi, sajian, dan format. Selain itu buku teks juga bisa
dilihat berdasarkan pesan kurikulum, buku teks memfokuskan ketujuan
tertentu, menyajikan bidang pelajaran tertentu, berorientasi kepada kegiatan
belajar siswa, buku teks dapat mengarahkan kegiatan mengajar guru di kelas,
pola sajiannya disesuaikan dengan perkembangan intelektual siswa sasaran, dan
dapat memunculkan kreativitas
siswa dalam belajar. Pengaruh buku teks bagi siswa yaitu memperluas wawasan anak,
menambah pengetahuan baru, berpikir konstruktif, mengarahkan kreativitas,
menumbuhkan sikap moral, sosial, dan agama yang baik, dan dapat menuntut ke
arah kehidupan yang mandiri. Dalam dunia pendidikan buku teks buku teks
merupakan bagian dari kelangsungan pendidikan, dengan buku pelaksanaan pendidikan
dapat lebih lancar, guru dapat mengelola kegiatan belajar lebih efektif dan
efisien lewat sarana buku. Dalam penilaian kelayakan isi dari sebuah buku teks ada tiga
indikator yang harus diperhatikan yaitu kesesuaian uraian isi dengan standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum yang
bersangkutan, keakuratan materi dan materi pendukung pembelajaran. Dalam penilaian
kelayan penyajian ada tiga indikator yang harus di perhatikan yaitu teknik
penyajian, penyajian pembelajaran, kelengkapan penyajian. Sedangkan dalam
penilaian kelayakan kegrafikan juga ada tiga indikator yang harus di perhatikan yaitu ukuran
buku, desain kulit buku, dan desain isi buku. Setelah tahap perencanaan awal maka
akan memasuki tahap pengumpulan Konsep-konsep (Drafting), seperti yang saya
paparkan di atas, Pengumpulan konsep merupakan bagian terpenting dalam
pembuatan jurnal, pada tahapan ini saya akan memilih sumber-sumber yang layak
maupun tidak layak
untuk dimasukan ke dalam jurnal saya nantinya, pengumpulan konsep dapat
dilakukan dengan mengambil beberapa referensi yang terkait pada jurnal
tersebut. Yang
termasuk dalam konsep saya yaitu Abstrak
yang terdiri dari intisari tentang penelitian kelayakan buku teks bahasa Indonesia
yang mencakup latar belakang, masalah penelitian serta metode yang akan
digunakan. Pendahuluan yang terdiri dari jawaban atas pertanyaan kelayakan buku
teks bahasa Indonesia
, untuk apa penelitian ini dilakukan, serta mengapa harus dilakukan penelitian
tersebut. Pembahasan yang berisi materi secara detail, tentang kelayakan buku
teks bahasa indonesia bagi
siswa kelas VII. Simpulan yang berisi intisari dari semua penelitian jurnal
tersebut. Dan terakhir daftar pustaka, yang berisi semua informasi tentang
sumber yang telah diambil untuk pembuatan jurnal. Setelah saya selesai dengan
pembuatan tahap awal dan tahap pengumpulan
konsep, maka
masuklah pada tahapan revisi. Pada tahapan ini yang perlu diketahui adalah
merevisi bukan berarti mengubah keseluruhan isi dari jurnal, namun merevisi
disini maksudnya memperbaiki jurnal agar kedepannya tidak ada kesalahan dalam
pembuatan jurnal, hal ini saya akan melakukan pembacaan ulang jurnal yang telah
saya buat agar saya
menemukan apabila dalam jurnal saya terdapat kesalahan ketik atau ada kata yang
tidak pas, baik dari segi kebahasaan contohnya, dalam penulisan, memperhatikan
penerapan EYD yang benar, penyusunan materi yang runtut, dari segi isi yakni
meninjau kembali, meninjau semua sumber jurnal, memperkuat jurnal tersebut
dengan menyertakan teori-teori
yang mendukung, maupun segi manfaatnya yakni, sudah sesuaikah jurnal tersebut
dengan fakta yang konkret, sudah
dapatkah dinikmati manfaat penulisan jurnal tersebut. Setelah semua tahapan
selesai barulah jurnal saya nantinya akan saya tulis di blog saya.
Selasa, 22 Maret 2016
Selasa, 15 Maret 2016
Senin, 14 Maret 2016
Komentar/Kritik Puisi & Cerpen
Cerpen
di atas sudah cukup baik, tema yang diambil mesteri, penulis menggunakan sudut pandang
orang ketiga, dalam cerpen tersebut masih banyak kekurangan dari segi bahasa.
Penulisannya pun juga masih ada kesalahan. Jalan ceritanya juga bisa ditebak,
sesi mesterinya masih kurang menonjol. Alur cerita sedikit tidak jelas dan penulis
tidak menceritakan kronologis bagaimana Bulan bisa membunuh mahasiswa KKN tanpa
sepengetahuan orang lain membuat pembaca bingung dan dalam cerita itu sedikit
tidak masuk akal, Meskipun begitu cerpen tersebut sudah bisa menghibur pembaca.
Puisi
yang berjudul "Sayatan" sudah cukup baik, pemilihan kata-katanya pun
juga sudah cukup baik hal itu terlihat pada bait “bulan yang bersinar terang” “menabuh
genderang perang” “mata itu nyalang”
menambah kesan mesteri dari puisi tersebut semakin menonjol.
Puisi yang
berjudul "Bagaimana?" Sudah
cukup baik, meskipun mengunakan kata-kata yang sederhana. Penulis memilih rima
yg sama di setiap baitnya. Dalam puisi tersebut penulis seakan memberi nasehat
kepada orang lain agar dia mau mengatakan yang sebenarnya, dan dia sadar bahwa
diapun juga bukan orang yang baik, hal itu terlihat pada bait puisi "ucap
ku bukan ucap yang tertata" .
Minggu, 13 Maret 2016
Puisi (Sayatan !)
Di kegelapan.
Dalam keheningan.
Mata itu menyala.
Bulan yang bersinar terang.
Menabuh genderang perang.
Mata itu nyalang.
Menguasai sebuah pisau teracung.
Menunggu.
Mengintai.
Menatap.
Mendekat.
Menggoreskan sebuah tanda.
Sayatan.... !!!
Dalam keheningan.
Mata itu menyala.
Bulan yang bersinar terang.
Menabuh genderang perang.
Mata itu nyalang.
Menguasai sebuah pisau teracung.
Menunggu.
Mengintai.
Menatap.
Mendekat.
Menggoreskan sebuah tanda.
Sayatan.... !!!
Kamis, 10 Maret 2016
Puisi (Bagaimana?)
“Bagaimana?”
Jika
memang benar
Katakan
!
Jika
memang salah
Katakan!
Bukan
karena benar kau tenar.
Bukan
karena salah kau sampah.
Ucap
ku bukan ucap yang tertata.
Doa
ku belum tentu diterima.
Dosaku
belum tentu membawa neraka.
Begitu
pula dengan pahala .
Belum
tentu aku ke surga.
Jadi
bagaimana ?
Selasa, 08 Maret 2016
Cerpen (Sayatan)
SAYATAN !!!
Tria mengerutkan
keningnya memandang hutan karet yang membentang di hadapannya, dia benar-benar
tidak menyangka bahwa tempat KKN-nya berada di daerah yang sangat terpencil.
Hampir 90 km dari kota perjalanan harus ditempuh dengan jalur darat, melewati
hutan yang gelap dan jalanan yang rusak, membuat tubuh mereka
terguncang-guncang di sepanjang perjalanan didua mobil yang mereka naiki.
Mereka satu tim yang terdiri dari dua belas orang mereka dari akademi
keperawatan yang mendapat tugas berkunjung ke desa tersebut. Sekarang sudah
hampir dua bulan Tria disini masa KKN nya sudah hampir habis. Perasaan lega dan
puas bercampur aduk dibenaknya, setidaknya dia sudah melakukan sesuatu, penduduk
sekarang sudah mulai mengerti pentingnya MCK di tempat yang seharusnya. Mereka
juga membangun sebuah WC umum di tengah desa.Hanya satu yang masih menjanggal,
penduduk sekitar sini masih kental dengan aliran mistis yang diwariskan turun
temurun dari para leluhur mereka. Tria masih sering melihat sesajen di bawah
pohon-pohon besar ataupun pondok-pondok yang berada di tengah hutan karet yang
membuat bulu kuduknya merinding. Dan ada satu lagi yang mengganggunya, meskipun
penduduk desa kebanyakan baik dan ramah, mereka menganggap Tria dan
teman-temannya seperti keluarga sendiri, tetapi sayangnya, ada gadis itu, gadis
yang seumuran Tria yang dipasung di belakang rumah kepala desa. Tria sangat
sedih melihatnya kenapa pemasungan masih berlaku di sini ? kenapa memperlakukan
gadis itu layaknya hewan yang tak berguna ini sungguh tak manusiawi, ketika
pertama kali mengetahui hal ini, Tria sempat menemui kepala desa dan memprotes.
Kepala desa hanya menatap Tria dengan tegas, “gadis itu namanya Bulan. Dia
dirasuki iblis, dia ditemukan di samping mayat ibunya yang bersimbah darah,
sambil memegang pisau dan penduduk mengira dialah pembunuhnya. Penduduk
ketakutan padanya dan karena tidak ada lagi keluarganya penduduk menyerahkan
kepada saya untuk memasungnya” . “tetapi dia tidak terlihat berbahaya, lagi
pula kalian belum bisa membuktikan bahwa dia yang membunuh ibunya? Bisa saja
orang lain yang melakukannya lalu melemparkan dosanya kepada gadis itu, kalau pun
dia membunuhnya, kalian tentu saja harus menyerahkan gadis itu kepada yang
berwajib agar dia mendapatkan perawatan yang baik bukannya malahan dipasung
seperti ini ! ini sungguh tidak berprikemanusiaan ! saya tidak akan
membiarkannya !” . Dan Tria pun mulai bertindak, dia mengurus segalanya,
menghubungi bagian-bagian terkait di kota untuk membantunya. Tantenya yang
berkerja di Komisi Perlindungan Wanita berjanji akan mengurus Bulan setibanya
di kota dan kemudian mengevaluasi keadaan Bulan kalau memang ada gangguan
kejiwaan, Bulan akan mendapatkan perawatan yang terbaik.
Ketika masa KKN nya
sudah hampir berakhir, Tria menyampaikan kemauannya itu kepada kepala desa,
semula kepala desa itu tidak setuju, “Jangan nak Tria, tidak baik membawa Bulan
ke kota, sudah saya bilang dia dirasuki iblis, dia bisa membunuh siapa saja,
bukan hanya ibunya. Biarlah dia dipasung di desa ini, kami yang akan menjaga
dan mengurusnya supaya tidak membahayakan orang lain” . “Saya bisa menuntut
anda karena perlakuan tidak baik kepada gadis itu” . Tria menatap kepala desa
penuh tekad. Dalam benaknya membayangkan sosok Bulan, gadis itu dipasung di
belakang rumah kepala desa dalam ruangan seperti kandang yang terbuat dari
bambu. Bau pesing menyengat di sana, dan pakaian gadis itu sangat lusuh seolah
dia tidak pernah mandi. Tidak ada yang berani mendekati gadis itu hanya saja
pengurusnya yang melemparkan makanan dan air, itu pun dari jauh. Bulan
benar-benar diperlakukan seperti hewan. Hati Tria miris betapa menyedihkannya
keadaan Bulan, sebenarnya Bulan adalah gadis yang cantik diusianya yang
sekarang , ia harusnya bisa seperti gadis-gadis lainnya, bersekolah, bermain,
jalan-jalan dengan teman atau yang lainnya, bukannya malah terpasung hanya
karena kepercayaan penduduk desa itu pada hal yang berbau mistis.
Kepala desa itu menatap
mata Tria yang menyala-nyala, ia pun akhirnya menyerah, meskipun hatinya merasa
enggan dan khawatir. “Baiklah nak Tria, kamu bisa membawa Bulan keluar dari
desa ini, tapi kami semua tidak akan bertanggung jawab akan apapun yang mungkin
dilakukan Bulan di Kota nanti”. “Sepakat” Tria menyalami kepala desa itu dengan
kepuasan luar biasa. Dia akan membawa Bulan pulang ke kota besok dan
menyelamatkan gadis itu. Ketika dia keluar dari ruangan kepala desa, para
penduduk rupanya sedang berkumpul di sana, mereka memandang Tria dengan
ketakutan dan rasa ngeri. “Itu orang yang akan melepaskan gadis iblis itu, dan
membawanya ke kota” seru seorang anak kecil sambil menunjuk-nunjuk ke arah Tria.
Para penduduk tampak sinis, mereka semua berbisik-bisik penuh prasangka, tetapi
Tria tidak peduli, dia melangkah dengan gagah berani menuju sebuah rumah kosong
milik warga tempat dia dan teman-temannya tinggal. Riski pemimpin timnya
menyambutnya di sana dalam senyuman. Mereka semua sedang mengemas
barang-barangnya untuk kepulangan mereka besok pagi. “Apakah kau berhasil ?”
Tanya Riski. Tria mengganggukan kepalanya “tentu saja”. Riski mengelus kepala
Tria dengan lembut dan penuh kasih sayang, “Hebat, aku yakin bisa
mengandalkanmu. Kita harus membebaskan gadis itu dari perlakuan yang tidak manusiawi”
. Dada Tria mengembang akan perasaan bangga. Ini jugalah salah satu alasannya
Tria mati-matian memperjuangkan kebebasan Bulan, dia merasa sangat senang
ketika Riski memujinya.
Riski.. pipi Tria
bersemu merah, ia merasa sedikit malu dengan pujian yang dilontarkan Riski ,
selama beberapa bulan di desa ini, mereka begitu dekat, dan Tria yakin ada
percik-percik asmara yang berkembang di sana. “Ayo bereskan barang-barangmu,
besok pagi-pagi sekali kita mandikan gadis itu supaya pantas untuk di bawa ke
kota” .Dewi yang tiba-tiba muncul, salah satu anggota tim KKN mereka menepuk
pundak Tria dan tersenyum.
Tria menurut, ia mengemasi
barang-barangnya bersama anak-anak lain, mereka semua tertawa dan bercanda,
senang bahwa mereka akan pulang kerumah setelah masa KKN yang penuh suka cita
ini, banyak pengalaman yang mereka peroleh selama berada di desa ini.
**
Bulan
ternyata cantik sekali, setelah Tria dan teman-teman perempuannya membantu
Bulan mandi, dan kemudian memberinya pakaian yang layak dipakai, dan pakaian
itu didapatnya dari teman mereka yang bernama Griya, Griya adalah teman Tria
yang bertubuh mungil. Gadis itu tampak normal dan cantik seperti gadis
kebanyakan. Pakaian yang digunakannya sangat pas ditubuhnya, dan Tria serta
teman-temannya harus mengolesi salep kepergelangan tangan dan kaki Bulan yang
lecet-lecet akibat dipasang terlalu lama. Mereka semua mendesah dan mengutuk
perlakuan kejam penduduk desa kepada Bulan.
Setelah semua siap. Tria dan
rombongannya membawa Bulan ke mobil. Semua penduduk desa tampaknya bersembunyi
ketika tahu bahwa Bulan dilepaskan dari pasungannya, warga desa tampak tegang,
bahkan tidak satupun orang atau anak-anak yang biasanya melewatkan hari di
teras ataupun di jalanan, desa itu layaknya desa kosong tak berpenghuni,
walaupun begitu Tria masih bisa melihat
wajah ketakutan penuh ingin tahu yang mengintip dari balik kaca atau jendela
rumah ketika Tria lewat bersama Bulan. Dalam hatinya Tria mencibir “begitu
dalam kah kepercayaan mereka akan hal mistis, sehingga mereka sangat takut
dengan gadis yang tidak berdaya ini, sampai-sampai memasungnya tanpa kasihan”.
Hanya kepala desa yang berdiri di sana dan melepas mereka, dia melirik ke arah
Bulan yang diam dengan pandangan kosong, lalu menatap takut-takut ke arah
Riski, “kalian eh…kalian tidak mengikatnya” . Tria langsung merasa tersinggung,
hendak menyemprot kapala desa itu tapi untungnya Riski menahan Tria, dia
bergumam duluan, “kami rasa dia tidak berbahaya pak” jawab Riski yakin. Kepala
desa itu mundur selangkah seolah takut terciprat tulah ketika Bulan lewat untuk
memasuki mobil, dia duduk di rombongan depan duduk di sebelah Tria, sekali lagi
Tria merasa sangat kesal dengan tingkah laku kepala desa tersebut.
**
Dua
mobil rombongan tim KKN itu pun melaju dengan cepat dan meninggalkan desa
terpencil itu. Semuanya mendesah lega antara penat dan bahagia, karena telah
selesai mengerjakan tugas mereka. Riski menyetir dan tersenyum melihat Bulan
yang setengah tertidur bersandar di bahunya. “Kasian, sekali dia ya” . Gumam
Riski diikuti anggukan dari teman-temannya yang lain yang berada dalam mobil.
Tria menghela nafas panjang melirik ke arah Bulan yang tertidur pulas dengan
wajah lemah. Hati Tria ngeri membayangkan betapa kejamnya penderitaan yang
dialami Bulan selama dalam pasungan. “Yang penting kita sudah menyelamatkannya”
kata Tria dengan tulus.
**
Karena
sudah menjelang tengah malam dan perjalanan masih panjang, mereka memutuskan
untuk menginap di desa kecil yang mereka lalui. Beruntung, desa itu merupakan
tempat wisata pantai, sehingga banyak penginapan tersedia, lagipula ini bukan
liburan sehingga banyak sekali kamar kosong yang tersedia karena tidak ada
pengunjung yang datang. Mereka memutuskan menyewa satu paviliun besar yang
terdiri dari empat kamar.
Di malam harinya bukannya tidur, mereka
malah berkumpul dan bercanda di ruang tengah paviliun, sambil bermain gitar dan
menonton tv. Dan romantisnya lagi Riski
tiba-tiba saja membacakan sebuah musikalisasi puisi yang diiringi dengan gitar.
Bukan
karena mata yang melihat
Telinga
yang mendengar
Mulut
yang berkata-kata
Atau
hati yang merasa
Tapi
mungkin ini tentang kenyamanan
Suatu
perasaan yang mungkin tak kudapat
Perasaan
yang jarang aku rasa
Suatu
rasa yang aku cari
Kemana-mana
dengan berlari
Entah
dengan lelah aku akan selalu
Menapaki
jalan itu hingga
Aku
dapat apa yang ku cari
Dan
jika semua itu telah kudapat
Sampai
kapanpun takkan pernah ku lepas lagi
Akan
ku pertahankan hingga nafas ku berhenti .
Semua anak-anak yang berada di Paviliun
itupun bertepuk tangan dan bersorak ketika Riski selesai membacakan puisi
tersebut dan Tria pun orang yang paling keras menepuk tangannya ketika itu.
Selama itu Bulan selalu berada di
sebelah Tria dan Riski. Sampai kemudian Riski melihat Bulan menguap
berkali-kali.
“Tria, itu Bulan sepertinya mau tidur” .
“Oh iya, biar aku yang mengantarkannya”. Tria beranjak sambil bergumam kepada
teman-temannya yang masih asyik nonton tv dan ngobrol. Dia lalu mengantar Bulan
ke sebuah kamar yang tersedia. Dengan lembut dibantunya Bulan berbaring di atas
kasur, Tria duduk di samping kasur sambil bercerita sendiri tentang
pengalamannya di desa tempat Bulan tinggal. Lama kelamaan mata Bulan meredup
dan kemudian dia terpejam dan tenggelam dalam tidur yang pulas, Tria sendiri
merasa ngantuk dan lelah setelah seharian perjalanan, Tria pun merebahkan
kepalanya di pinggir ranjang dan terlelap.
**
Tria
terbangun, entah kenapa sejenak ia merinding oleh suasana hening yang pekat,
tidak ada lagi suara galak tawa dan obrolan teman-temannya, tidak ada lagi
suara gitar yang dipetik dengan senandung yang ceria. “Mungkin semua sudah
tertidur” kata Tria. Dan pada akhirnya Tria mengerutkan keningnya ketika
melihat betapa gelapnya kamar ini, juga bagian ruang tengah, semua gelap.
“Apakah mati lampu !” pikir Tria, ketika Tria berdiri, dia semakin terkejut
karena kasur tempat Bulan tidur ternyata kosong, kemana Bulan ? Tiba-tiba Tria
merasa cemas, takut Bulan keluar sendirian lalu tersesat. “Semoga saja Bulan
tertidur dengan salah satu teman perempuannya” ucap Tria dalam hati. Tria
melangkah keluar kamar, ruang tamu yang tadinya terang sekarang gelap pekat,
dia mencoba menajamkan matanya dan menyesuaikan diri dengan ruangan gelap itu,
dengan sekejap Tria bisa melihat bayangan teman-temannya yang tertidur di ruang
tamu, mungkin mereka terlalu kelelahan sehingga tidak tidur di kamar, melainkan
langsung tidur di ruang tamu. Empat teman perempuannya yang bernama Jessica,
Dewi, Griya dan Gadis tampak tertidur. Sambil duduk di atas sofa besar di depan
tv. Sementara teman-teman lelakinya tertidur di atas lantai yang dilapisi
karpet bergelimpangan tak tentu arah, membuat Tria geli, “Dasar laki-laki !”
gumamnya dalam hati sambil mencari sosok Riski di sana. Tria menemukan Riski,
lelaki itu bergelung di dekat tembok dengan senyum Tria mendekat, dia berniat
ingin tidur di dekat Riski, agar nanti pagi ketika mereka bangun dalam keadaan
berpelukan, dengan wajah malu karena ketahuan temannya yang lain. Tria
berjongkok untuk mencari posisi yang nyaman, tiba-tiba tangan Tria menyentuh
karpet dan dia mengerutkan kening. “Basah..” Tria mendekatkan cairan yang
membasahi tengannya ketika menyentuh hidungnya, “Aroma amis.. itu darah !” Tria
panik menyentuh pundak Riski dan mengguncang-guncangnya untuk membangunkannya,
tetapi Riski tidak bangun juga, dengan keras Tria membalikkan tubuh Riski yang
meningkuk menghadap tembok, dan dia terpana… Riski terbaring dengan mata
membelalak, tubunnya lunglai dan ada luka sayatan yang membasahi seluruh bagian
di lehernya.
Tria
menjerit keras-keras dikegelapan, dia berlari kearah teman-temannya yang lain. Semua
teman laki-lakinya yang terbaring di lantai serupa dengan Riski, mereka
terbaring mati dengan sayatan yang mengalirkan darah. Tria berlari ke sofa dan
dia pun tiba-tiba menjerit lagi ketika menemukan keadaan teman-temannya yang
tak kalah mengerikannya. Semuanya mati, semuanya terluka dibagian leher, yang
masih mengucurkan darah segar . Luka itu merupakan bekas sayatan pisau, darah
mengucur dimana-mna membasahi sofa, membasahi karpet. Tria berlari kearah
pintu, Tria panik ketika menemukan pintunya terkunci, dia mengedor-ngedornya
dan berteriak minta tolong tapi suasana di luar begitu senyap. Kenapa tidak ada
yang menolongnya ?? Tria menjerit-jerit sampai suaranya serak, berusaha
membangunkan siapa pun yang berada di dekat penginapan ini. “Sssssssttttt” lalu
suara itu terdengar, membuat Tria menolehkan kepalanya dengan takut, dalam
kegelapan, dia melihat sosok Bulan berdiri di sana. Ujung tangan Bulan di
taruhnya di depan bibir Tria sebagai isyarat agar Tria diam, dan di sebelah
tangannya terpacung pisau besar yang berkilat-kilat terkena cahaya bulan yang
menembus jendela. Pisau itu berlumuran darah…
**
Di
kegelapan
Dalam
keheningan
Mata
itu menyala
Bulan
yang bersinar terang
Menabuh
genderang perang
Mata
itu nyalang
Menguasai
…
sebuah pisau teracung
Menunggu
…
Mengintai
…
Menatap
…
Mendekat
…
Menggoreskan
sebuah tanda
SAYATAN
!!!
Langganan:
Postingan (Atom)















